Rabu, 11 Maret 2009
Rabu, 04 Maret 2009
Saparan Bekakak Gamping
Ambarketawang, Gamping, Sleman INDONESIA
Upacara bekakak di Gunung Gamping. Upacara bekakak disebut juga Saparan. Disebut saparan sebab pelaksanaan upacara tadi harus jatuh atau berkaitan dengan bulan sapar. Upacara ini diadakan atas perintah P. Mangkubumi. Mengenai kata saparan berasal dari kata sapar dan berakhiran an. Kata sapar identik dengan ucapan Arab Syafar yang berarti bulan Arab yang kedua. Jadi Saparan ialah upacara selamatan yang diadakan disetiap bulan Sapar.
Saparan Gamping disebut juga Saparan Bekakak. Bekakak berarti korban penyembelihan hewan atau manusia. Bekakak pada saparan ini hanya tiruan manusia saja, berujud boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan.
Pelaksanaan upacara� saparan gamping tersebut diperinci dalam beberapa tahap yaitu:
- tahap midodareni bekakak
- tahap kirab
- tahap �Nyembelih� pengantin bekakak
- tahap sugengan Ageng.
Penyelenggaraan upacara saparan Gamping bertujuan untuk menghormati arwah (roh halus) Kiai dan Nyai Wirosuto sekeluarga. Kiai Wirosuto adalah abdi dalem penangsong (hamba yang memayungi) Sri Sultan Hamengku Buwana I pembawa payung kebesaran setiap Sri Sultan Hamengku Buwana I berada dan tidak ikut pindah waktu dari keraton (pesanggrahan) Ambarketawang ke keraton yang baru. Bersama keluarganya ia tetap bertempat tinggal di Gamping. Dan dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping.
Waktu penyelenggaraan upacara Saparan Gamping telah ditetapkan, ialah setiap hari Jumat dalam bulan sapar antara tanggal 10 � 20 pada pukul 14.00 (kirab temanten bekakak). Penyembelihan bekakak dilakukan pada pukul 16.00.
Tempat penyelenggaraan upacara disesuaikan dengan pelaksanaan upacara. Persiapan penyelenggaraan upacara dibagi dalam dua macam yaitu saparan bekakak dan sugengan ageng. Persiapan untuk saparan bekakak terutama pembuatan bekakak dari tepung ketan dan membuat juruh, yang memakan waktu �8 jam. Pada saat pembuatan tepung diiringi gejong lesung atau kothekan yang memiliki bermacam-macam irama antara lain, kebogiro, thong-thongsot, dhengthek, wayangan, kutut manggung dan lain-lain.
Apabila penumbukan beras telah selesai, kemudian dilakukan pembuatan bekakak, gendruwo, kembang mayang, dan sajen-sajen, di satu tempat yaitu di rumah Bapak Roesman (panitia). Bentuk bekakak laki-laki dan perempuan dengan bentuk pengantin pria dan wanita pada umumnya dua pasang pengantin bekakak dengan sepasang bergaya Solo, dan sepasang bergaya Yogyakarta. Adapun pengantin laki-laki yang bergaya Solo dihias dengan ikat kepala ahestar berhiaskan bulu-bulu, leher berkalung selendang merah, dan kalung sungsun berkain bangun tulak, sabuk biru, memakai slepe. Mengenakan keris beruntaikan bunga melati, dan kelat bau. Sedangkan yang wanita memakai kemben berwarna biru, berkalung selendang merah dan kalung sungsun. Wajah dipaes, gelung diberi bunga-bunga dan mentul, di bahu diberi kelat bahu dan memakai subang.
Adapun pengantin laki-laki yang bergaya Yogyakarta, dihias dengan penutup kepala kuluk berwarna merah, berkalung selendang (sluier) biru dan kalung sungsun, sabuk biru dengan slepe, kain lereng, berkelat bahu dan bersumping, kemben hijau, kalung selendang biru (bangu tulak). Kekhususan yang tidak dapat dilanggar sampai saat ini, yaitu pelaku yang menyiapkan bahan mentahnya tetap para wanita, sedang yang mengerjakan pembuatan bekakak adalah para pria.
Sesaji upacara bekakak dibagi menjadi 3 kelompok. Dua kelompok untuk dua jali yang masing-masing diletakkan bersama-sama dengan pengantin bekakak. Satu kelompok lagi diletakkan di dalam jodhang sebagai rangkaian pelengkap sesaji upacara. Macam-macam sesajen yang diletakkan bersama-sama pengantin bekakak antara lain nasi gurih (wuduk) ditempatkan dalam pengaron kecil: nasi liwet ditempatkan dalam kendhil kecil beserta rangkaiannya daun dhadhap, daun turi, daun kara yang direbus, telur mentah dan sambal gepeng: tumpeng urubing dhamar, kelak kencana, pecel pitik, jangan menir, urip-uripan lele, rindang antep, ayam panggang, ayam lembaran, wedang kopi pahit, wedang kopi manis, jenewer, rokok/cerutu, rujak degan, rujak dheplok, arang-arang kemanis, padi, tebu, pedupaan, candu (impling), nangka sabrang, gecok mentah, ulam mripat, ulam jerohan, gereh mentah.
Sesaji itu ditempatkan dalam sudhi, gelas, kemudian ditaruh di atas jodhang antara lain sekul wajar (nasi ambeng) dengan lauk pauk: sambel goreng waluh, tumis buncis, rempeyek, tempe garing, bergedel, entho-entho, dan sebagainya, sekul galang lutut, sekul galang biasa, tempe rombyong yang ditaruh dalam cething bambu, tumpeng megana, sanggan (pisang raja setangkep), sirih sepelengkap, jenang-jenangan, rasulan (nasi gurih), ingkung ayam, kolak, apem, randha kemul, roti kaleng, jadah bakar, emping, klepon (golong enten-enten), tukon pasar, sekar konyoh, kemenyan, jlupak baru, ayam hidup, kelapa, sajen-sajen tadi ditempatkan dalam sudhi lalu semuanya diletakkan dalam lima ancak, dua ancak diikutsertakan dalam jali dibagikan kepada mereka yang membuat kembang mayang, bekakak dan yang menjadikan tepung (ngglepung) sementara itu disiapkan pula burung merpati dalam sangkar.
Midodareni Bekakak: Meskipun bekakak ini, berujud pengantin tiruan, tetapi menurut adat perlu juga memakai upacara midodareni. Kata midodareni bersal dari bahasa Jawa widodari yang berarti bidadari. Di sini terkandung makna bahwa pada malam midodareni para bidadari turun dari surga untuk memberi restu pada pengantin bekakak.
Tahap upacara ini berlangsung pada malam hari (kamis malam) dimulai � jam 20.00. dua buah jali berisi pengantin bekakak dan sebuah jodhang berisi sesaji disertai sepasang suami istri gendruwo dan wewe, semua diberangkatkan ke balai desa Ambarketawang dengan arak-arakan. Adapun urutan barisan arakan dari tempat persiapan ke balai desa Ambarketawang sebagai berikut :
- barisan pembawa umbul-umbul
- barisan peleton pengawal dari Gamping tengah
- joli pengantin dan jodhang
- reyog dari Gamping kidul
- pengiring yang lain
Kemudian semua jali dan lain-lain diserahkan kepada Bapak kepala Desa Ambarketawang. Pada malam midodareni itu, diadakan malam tirakatan seperti hanya pengantin benar-benar, bertempat di pendhopo ataupun diadakan pertunjukan hiburan wayang kulit, uyon-uyon, reyog. Di rumah Ki Juru Permono diadakan pula tahlilan yang dilaksanakan oleh bapak-bapak dari kemusuk kemudian dilanjutkan dengan malam tirakatan yang diikuti oleh penduduk sekitar. Di pesanggrahan Ambarketawang juga diadakan tirakatan.
Kirab Pengantin Bekakak: Tahap �kirab� pengantin bekakak ini merupakan pawai atau arak-arakan yang membawa jali pengantin bekakak ke tempat penyembelihan. Bersama dengan ini diarak pula rangkaian sesaji sugengan Ageng yang dibawa dari Patran ke pesanggrahan. Juga diarak ke balai desa terlebih dahulu.
Adapun urut-urutan arakan/ pawai upacara tradisional saparan bekakak sebagai berikut :
- reyog dan jathilan dari Patran
- sesaji sugengan Ageng
- barisan prajurit dari Gamping tengah membawa umbul-umbul memakai celana hitam kagok, berkain, baju lurik, destalan, seperti prajurit Daeng. Mereka membawa seruling, genderang dan mung-mung.
- prajurit putri membawa perisai, pedang, mengenakan baju berwarna-warni, celana panjang cinde dan berkain loreng.
- rombongan Demang dan kawan-kawan. Demang tersebut mengenakan kain, baju beskap hitam, memakai selempang kuning.
- jagabaya berkain, baju beskap hitam, memakai serempang merah.
- kaum atau rois, mengenakan kain berbaju surjan memakai serempang putih.
- pembawa tombak berbungkus cindhe beruntaikan bunga melati, mereka mengenakan celana hitam kagok, baju lurik, iket wulung, berselempang cindhe. Tiga pemudi mengenakan kain lurik ungu, baju hijau, memakai selempang merah, masing-masing membawa tiruan landak, gemak, merpati.
- barisan pembawa tombak, memakai celana merah, baju lurik merah, iket berwarna merah jingga.
- peserta bapak-bapak yang berkain berbaju surjan seragam warna merah, memakai sampur berwarna-warni.
- prajurit anak-anak, laki-laki perempuan membawa jemparing (panah).
- joli sesaji (jodhang) yang dibawa oleh petugas memakai seragam hitam kagok, baju merah iket biru.
- barisan selawatan
- joli bekakak Gunung Kliling.
- barisan yang membawa kembang mayang, cengkir, bendhe, tombak, dan luwuk semua dipayungi.
- barisan berkuda
- barisan pembawa panji-panji berwarna-warni yang mengenakan kain, baju surjan biru muda dan iket hitam.
- tiga pemudi membawa banyak dhalang, sawung galing, ardawalika
- tiga orang pemuda membawa padupaan dan bunga-bunga diikuti pembawa alat musik genderang, seruling dan mung-mung.
- prajurit Gamping Lor, diikuti prajurit, putri yang membawa panah, disusul lagi mereka yang membawa pedang panjang.
- jali sesaji (jodhang) yang dibawa oleh petugas memakai seragam celana hitam kagok, baju merah iket biru.
- jathilan dari patran
- prajurit Gamping Kidul, ada yang memakai topeng buron wana (landhak, kerbau, garuda) ada yang membawa tombak bertrisula, tombak biasa.
- reyog Gunung Kidul (seperti badhak merak)
- kemudian upacara tradisional itu berangkat dari balai desa menuju kearah bekas gung Ambarketawang, tempat penyembelihan pertama, kemudian ke tempat penyembelihan kedua yaitu di Gunung Kliling.
Nyembelih Pengantin Bekakak. Apabila arak-arakan telah tiba di Gunung Ambarketawang, maka joli pertama yang berisi sepasang pengantin bekakak, diusung ke arah mulut gua. Kemudian ulama (kaum) memberi syarat agar berhenti dan memanjat doa.
Selesai pembacaan doa, boneka ketan sepasang pengantin itu disembelih dan dipotong-potong dibagikan kepada para pengunjung demikian pula sesaji yang lain. Arak-arakan kemudia dilanjutkan menuju Gunung Kliling untuk mengadakan upacara penyembelihan pengantin bekakak yang kedua dan pembagian potongan bekakak yang kedua kepada para pengunjung.
Adapun jodhang yang berisi sajen selamatan dibagikan kepada petugas di tempat penyembelihan terakhir.
Sugengan Ageng. Sugengan Ageng yang dilaksanakan di Pesanggrahan Ambarketawang ini dipimpin oleh Ki Juru Permana pada hari tersebut. Pesanggrahan telah dihiasi janur (tarub) dan sekelilingnya diberi hiasan kain berwarna hijau dan kuning. Sesaji Sugengan Ageng yang dibawa dari patran, berujud jodhang, jali kembang mayang, kelapa gadhing (cengkir), air amerta, bokor tempat sibar-sibar, pusaka-pusaka, dan payung agung telah diatur dengan rapi di tempat masing-masing.
Upacara ini dilaksanakan di Gunung Kliling selesai. Pertama-tama pembakaran kemenyan, lalu dilanjutkan oleh Ki Juru Permana membuka upacara tadi dengan mengikrarkan adanya Sugengan Ageng tersebut, dilanjutkan pembacaan doa dalam bahasa Arab. Setelah selesai maka dilepaskannya sepasang burung merpati putih oleh Ki Juru permana. Pelepasan burung merpati ini disertai tepuk tangan para hadirin yang menyaksikannya. Kemudian dilakukan pembagian sesaji Sugengan Ageng yang berada dalam joli rahmat Allah kepada semua yang hadir, terutama makanan tawonan kegemaran Sultan Hamengku Buwana I. Dengan selesainya pembagian sesaji yang dilaksanakan, di pesanggrahan Ambarketawang.
Pada tanggal 24 Oktober 1945, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi didirikan untuk menggantikan Liga Bangsa-Bangsa. Para wakil dari negara-negara Sekutu pada Perang Dunia Kedua, yaitu AS, Soviet, Inggris, dan Perancis, dalam perundingan-perundingan selama perang tersebut telah memulai persiapan pendirian PBB ini. Akhirnya, dalam konfrensi di San Fransisko, Amerika, para wakil dari 50 negara-negara dunia menandatangani piagam pembentukan PBB.
PBB bermarkas tetap di New York. Tujuan utama didirikannya PBB, seperti yang disinggung dalam piagam PBB, adalah untuk menjaga perdamaian di dunia, mengembangkan hubungan persahabatan antar bangsa, memupuk kerjasama internasional untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi, sosial, dan budaya, serta mengembangkan penghormatan atas Hak Asasi Manusia dan kebebasan.
Tak dapat disangkal bahwa PBB telah melakukan banyak hal yang patut dipuji. Namun, adanya hak veto untuk lima negara anggota tetap Dewan Keamanan, yaitu AS, Rusia, Inggris, Prancis dan China, telah membuat kebijakan Dewan Keamanan sebagai salah satu badan utama PBB, selalu mengikuti langkah kelima negara tersebut, khususnya AS. Sebaliknya, Majlis Umum yang menjadi forum seluruh anggota PBB justeru tidak memiliki kekuatan yang berarti dibanding dengan Dewan Keamanan. Ketidakadilan inilah yang telah menghambat keberhasilan PBB dalam mengemban misinya, dan bahkan telah melahirkan protes dari banyak negara anggotanya.
Piagam PBB adalah konstitusi PBB. Ia ditanda tangani di San Francisco pada tanggal 26 Juni 1945 oleh kelima puluh anggota asli PBB. Piagam ini mulai berlaku pada 24 Oktober 1945 setelah ditandatangani oleh lima anggota pendirinya-Republik China (Taiwan), Perancis, Uni Soviet, Britania Raya, Amerika Serikat -dan mayoritas penanda tangan lainnya. Sebagai sebuah Piagam ia adalah sebuah perjanjian konstituen, dan seluruh penanda tangan terikat dengan isinya. Selain itu,
Piagam tersebut juga secara eksplisit menyatakan bahwa Piagam PBB mempunyai kuasa melebihi seluruh perjanjian lainnya. Ia diratifikasi oleh AS pada 8 Agustus 1945, yang membuatnya menjadi negara pertama yang bergabung dengan PBB.
materi referensi:
www.e-smartschool.com
www.un.org/aboutun/charte
Kamis, 19 Februari 2009
Jumat, 16 Januari 2009
PaDa SaAtNyA
Pada Saatnya,
Ketika musim berganti
Dan gugusan mendung yang ranum
Menitikkan tetes hujan pertama
Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu
Menyibak kabut keraguan
Lalu mendamparkan hasrat yang hangat dibakar rindu
Pada Saatnya,
Di ujung perjalanan
Akan kubingkai binar matamu
Bersama gelegak gairah jiwaku
Menjadi lukisan indah di lekuk cakrawala
Dalam leleh cahaya bulan melumuri langit
ditingkah semilir angin laut dan tarian ombak
membelai lembut kristal pasir pantai
Pada Saatnya,
Akan kubuatmu terjaga dari lelap tidur
lalu bersama merajut impian yang tak segera usai,
Dalam genangan cinta dipalung kalbu
Dan getar cumbu tak berkesudahan
Selasa, 16 Desember 2008
SMA Negeri 1 Yogyakarta
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
| Didirikan | 16 Desember 1957 |
|---|---|
| Jenis sekolah | Negeri |
| Lokasi | Jl. H.O.S. Cokroaminoto 10, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia |
| Situs | http://www.sman1teladan-yog.sch.id |
SMA Negeri 1 Yogyakarta merupakan SMA di Yogyakarta. Oleh masyarakat Yogyakarta, sekolah ini sering disebut juga dengan nama SMA Teladan.
Daftar isi[sembunyikan] |
[sunting] Sejarah
Pada tahun 1954, Kepala Urusan Pendidikan SMA Depdikbud menugaskan beberapa SMA untuk mengadakan kurikulum baru, kemudian SMA-SMA ini disebut sebagai SMA Teladan. Berdirinya SMA-SMA Teladan yang ada di Jakarta, Medan, Surabaya, Bukit Tinggi, dan Yogyakarta didasari oleh SK Mendikbud nomor 12807/a/c pada tanggal 16 Desember 1957. SMA Teladan sendiri terdiri menjadi tiga bagian. Bagian A bermaterikan Sastra Budaya, bagian B mengajarkan Ilmu Pasti, dan bagian C bermaterikan Sosial Ekonomi. SMA Negeri 1 Yogyakarta yang semula adalah sekolah Algemere Midlebaar School (AMS) Afdeeling Yogyakarta, kemudian berubah nama menjadi SMA Teladan A.
SMA Negeri 1 Yogyakarta adalah SMA Teladan Bagian A, tapi karena dianggap berhasil, maka pada tanggal 30 November 1962 melalui SK Mendikbud nomor 34/SK/BIII, mengangkat SMA Teladan A menjadi Teladan ABC. Tak lama setelah itu, keluar instruksi dari Depdikbud untuk menerapkan eksperimen kurikulum SMA Teladan di seluruh Indonesia. SMA Teladan ABC Yogyakarta pun berubah namanya menjadi SMA Negeri 1 Yogyakarta. Namun hingga sekarang, orang lebih mengenal SMA Negeri 1 Yogyakarta dengan nama SMA Teladan.
Pada tahun 1998, ditunjuk sebagai sekolah berwawasan unggulan[1].
Pada tahun 2002, mulai membuka program kelas akselerasi [2]. SMA Negeri 1 Yogyakarta juga ditunjuk sebagai Sekolah Model Budi Pekerti dan oleh Kandepag juga ditunjuk sebagai Sekolah Model Pendidikan Agama Islam.
Pada tahun 2004, mulai membuka program kelas bertaraf internasional. Angkatan pertama kelas internasional telah mengikuti tes International General Certificate of Secondary Education (IGCSE) yang diadakan oleh Universitas Cambridge.
Pada tahun 2005, menjadi Sekolah Nasional Bertaraf Internasional (SNBI). Pada tahun yang sama, sekolah ini mendapatkan sertifikasi dari Universitas Cambridge untuk menjadi Cambridge Center[3].
[sunting] Kepala Sekolah
- Drs. Poerwoko (1957-1964)
- Drs. Soewandi Djiwo Soewondo (1964-1972)
- Drs. Budi Harjo (1972-1975)
- Drs. Soemardji (1975-1981)
- Drs. Moelyono (1981-1984)
- Drs. Kusnun (1984-1988)
- Drs. Sri Matojo (1988-1991)
- Ariento Dipl. Spr. (1991-1993)
- R. Ayu Tri Martini (1993-1997)
- Drs. Soenarto (1997-2001)
- Drs. Bashori Muhammad, M.M. (2001-2008)
- Drs. Bambang Supriyono, M.M. (2008-sekarang)
[sunting] Lambang
- Tugu berwarna putih artinya ciri khas dan budaya Yogyakarta yang kokoh, berwibawa, dan bersejarah sebagai saksi kehidupan bangsa. Sedangkan simbar atau nyala api pada puncak tugu, melambangkan dinamika pencapaian cita-cita yang tidak pernah berakhir melalui kebaikan dan kebenaran.
- Cakra berwarna kuning keemasan artinya mengarah kepada eksak dan geometrik dengan trisula yang merupakan senjata pamungkas. Cakra ini memiliki arti filosofi agar bertindak tegas dan tuntas namun tetap bijaksana dan tidak emosional dalam pencapaian harapan dan kebahagiaan.
- Padma berwarna merah artinya sosialisasi dalam kehidupan masyarakat melalui semangat kerjasama yang dinamis. Bunga yang tumbuh melalui tiga fase, yaitu di bawah air, pada air, dan tersembul ke permukaan. Sedangkan daun bunga bagian atas yang berjumlah lima dan bagian bawah yang berjumlah tujuh menyimbolkan tahun 1957, yaitu tahun penetapan SMA Negeri 1 Yogyakarta menjadi SMA Teladan.
- Tulisan Teladan berwarna kuning artinya pondasi yang bertanggungjawab atas keberhasilan ketiga lambang di atasnya. Tulisan ini juga bermakna harapan tanpa pamrih dan doa semoga dapat menjadi teladan yang membentuk satu kesatuan dan tergambar.
[sunting] Alumni
[sunting] KATY
KATY (Keluarga Alumni Teladan Yogyakarta) adalah organisasi yang menampung dan mengelola seluruh lulusan maupun mantan pelajar sekolah ini. Hingga akhir tahun 2007, organisasi ini telah beranggotakan 12.000 orang. Fungsi utama organisasi ini adalah untuk pengelolaan sumber daya alumni untuk kepentingan almamater. Organisasi ini dikelola oleh Pengurus Pusat yang berkantor pusat di Yogyakarta. Organisasi ini juga mempunyai beberapa koordinator daerah cabang.
[sunting] KSAI Al Uswah
KSAI Al Uswah (Kelompok Studi dan Amaliyah Islam) adalah organisasi yang menampung dan mengelola seluruh lulusan maupun mantan pelajar sekolah ini yang beragama Islam. Organisasi ini mempunyai tujuan utama melakukan dakwah Islam di kalangan alumni dan juga almamater. Nama "Al Uswah" berasal dari bahasa Arab yang berarti "Teladan", yang mana sesuai dengan nama sekolah ini.